Aku menarik kursi yang terjejer rapih didekat gerbang sekolah. Dari siang tadi, sekolah sudah ramai dipenuhi oleh orang-orang yang membeli tiket untuk acara Diesnatalis nanti malam yang mengundang grup band Vierratale ke sekolahku. Jelas saja ramai.
Aku melirik jam tanganku yang sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam. Lalu lintas didepan sekolahku juga sudah mulai macet, ada cukup banyak polisi yang mengatur serta berjaga didepan dan didalam sekolah.
Suara musik terdengar berdentum-dentum dari dalam sekolah, ini pasti lagu band milik Vera yang sangat digemari oleh warga SMANSA. Band mereka pun juga sudah mulai aktif sejak kelas tujuh SMP, dan memang kuakui kalau cara menyanyi Vera bisa membuat siapa saja terhipnotis. Suaranya menggelegar tapi sangat enak didengar. Apa lagi lagu andalan mereka, lagu milik NOAH yang berjudul Cobalah Mengerti, selalu mengingatkanku kepada seseorang yang pernah, eum, bukan, mungkin masih menempati tingkat kedua dihatiku setelah Sang Pencipta dan keluargaku. Sosoknya yang berhasil membuatku merasakan sesuatu yang berbeda.
Sebuah kebiasaan yang sering ditunjukkan kepadaku dan akhirnya menjadi sebuah istilah yang biasa disebut dengan cinta. Cinta itu datang karena terbiasa dengan kebiasaan itu.
Dulu, percakapan-percakapan manis itu bisa menumbuhkan semangat tersendiri untukku, semua perhatian yang ia berikan, sangat berpengaruh dalam cara berpikirku.
Sampai aku menunggu waktu itu datang, waktu yang kukira akan membuatku menjadi manusia yang paling bahagia didunia, tapi nyatanya ia tak kunjung datang, sosoknya tak muncul memberikan sebuah kepastian akan jawaban hatiku.
Dan akhirnya, aku sadar, kalau selama ini aku salah mengartikan perhatiannya, sangat salah. Aku yang terlalu berharap lebih pada sosoknya yang bodohnya aku bisa berpikir bahwa ia bisa merasakan perasaan yang sama denganku.
Sudah tujuh bulan ini, aku tak pernah melihat lagi sosoknya, setelah ia lulus, semuanya berubah. Rasanya ada yang hilang.
Aku masih ingat, ia pernah bilang "nggak ada yang berubah, jangan khawatir. masih ada komunikasi ko :)"
Kalimat itu sangat sederhana, bahkan orang yang membacanya akan bersikap biasa saja. Tapi tidak bagi aku.
Kalimat itu sangat memiliki arti. Arti yang sangat dalam. Seperti menggambarkan ia menyuruhku untuk tidak bersikap khawatir tentang apa yang akan terjadi kedepannya. Bahkan juga mengandung sebuah unsur janji bahwa masih tetap akan ada komunikasi diantara kami.
Tapi, tiga bulan ini, kami lost contact.
Haha..
Siapa aku sampai-sampai aku merasakan sakit ini?
Siapa aku sampai-sampai harus merasakan kehilangan sosoknya?
Aku bukan siapa-siapanya.
Aku tersadar dari lamunanku karena angin malam yang berhembus dengan kencang. Seseorang memanggil namaku sambil melambai padaku. Ray.
"Safa, bantuin!!" serunya dari tempat penjualan tiket.
Aku bangkit, kemudian berjalan kearahnya.
"Kamu yang ambilin kembalian ya, aku yang kasih tiketnya."
"Oke." jawabku singkat.
"Akhirnya habis.." ujarku sambil memberikan hasil uang penjualan tiket pada Ray. Wajahnya yang tampan itu tersenyum dengan lebar menepuk bahuku.
"Makasi ya Mikha. Baik banget."
Aku mengangguk tersenyum lalu duduk dengan menyandarkan punggungku pada sandaran kursi.
Kulihat dari arah pintu gerbang Safa berlari kearahku dengan wajah yang sangat sumringah. Paling-paling ia baru saja bertemu dengan pangeran berkuda peraknya, Bian.
"Mikhaaaaaaaa!!!!!!" langkahnya semakin dekat denganku, juga teriakannya yang semakin kencang.
"Mikhaaa!!! Kabar baikkk!! Sumpah gue nggak bohong!!!!!" ia berhenti tepat didepanku, nafasnya terdengar sangat terburu-buru, saling berkejaran.
"Sabarrr, atur dulu tuh nafas! Kenapa sih? Abis ketemu Bian?"
Safa mencoba mengatur nafasnya lalu memandangku dengan tatapan bahagia.
"Diluar ada kak Adrian!!!! Lo kangen kan??? Dia kesini bareng temen-temennya!!" nama yang baru saja disebut Safa seolah menjadi batu pengganjal sistem pernafasanku.
Sesak sekali mendengar namanya.
Bukan hanya sesak, melainkan sakit.
Sakit karena harus menahan rindu yang sangat sulit untuk diungkapkan ini.
Tak lama kemudian, aku melihat sosoknya, sosoknya yang tinggi, tampan, memasuki gerbang sekolah dengan teman-temannya.
Tawanya terdengar sampai ditempat aku berdiri.
Ia datang.
Ia kembali.
Sampai akhirnya tatapan kami bertemu, ia berdiri didepanku.
Postur tubuhnya yang lebih tinggi dariku, membuatku harus mendongakkan kepala.
"Ciee ketemu sang gebetan.." goda teman-temannya.
"Upay lo semua." jawab Adrian dengan candaannya.
Akhirnya aku bisa melihatnya lagi. Cukup terobati rindu ini.
"Halo Mikhaaa.. Lama nggak ketemu ya." sapanya.
Hanya itu?
Apa ia tak menyadari sebuah kata lost contact diantara dia dan aku sudah menggantung didepan matanya?
"Mikha?" panggilnya yang kemudian menyadarkanku karena lamunanku.
Aku menggeleng sekali lalu mencoba tersenyum, "Eh..iya mas. Kesini bareng temen-temen ya?"
Dasar bodoh. Mungkin ia akan mengira kalau aku tak punya indera penglihatan.
Jelas-jelas saja, ia kemari bersama teman-temannya.
"Iya, dari pada sendirian. Ntar dikira orang ilang. Hehe. Kamu panitia Diesnat?"
"Dia ketua Diesnatnya mas!" celetuk Safa sambil memamerkan behel barunya itu.
"Oh mbak ketua to.. Tadinya boleh dong ya aku masuknya gratis." candanya tertawa.
Ditengah-tengah keheninganku dan Adrian, suara seorang gadis membuyarkan keheningan ini.
"Adriaaaaaaaaan!!!"
"Bahhh kutu air dateng." gumam Mas Dimas sambil membuang muka.
Seorang gadis berambut panjang mengenakan dress selutut berlari centil kearah Adrian lalu menggantungkan lengannya dilengan kanan Adrian.
"Kenapa aku ditinggal dimobil sih? Nyebelin deh."
Jantungku berdegup cepat.
Rasanya melihat dua lengan saling berpautan, tanpa aku tahu apa statusnya, sungguh menyakitkan.
Apakah gadis ini penyebab hilangnya komunikasi diantara aku dan Adrian?
"Mmmm, ya tadi buru-buru sih." Adrian menggaruk kepalanya lalu tersenyum kearah gadis itu.
"Yaudah yuk masuk!" gadis itu menggandeng Adrian untuk masuk kedalam.
Aku masih mematung memperhatikan Adrian yang menoleh kearahku dengan sebuah senyuman yang seharusnya bisa menghangatkan dan menenangkan hati.
Tapi entah kenapa, senyum itu malah membuat hati ini semakin merasa tercabik, seolah Adrian sangat puas bisa meninggalkan sebuah hati yang sudah terbuka lebar untuk dilabuhi olehnya.
Safa merangkulku untuk kembali duduk.
Aku mencoba mengatur degup jantungku ke level normal. Mencoba tersenyum untuk mencairkan suasana.
"Mikha, jangan jeles ya, emang biasa kek gitu sih mereka." ujar Mas Dimas.
"Cewek centil. Heran deh gue, kenapa Adrian mau sama cewek kaya dia." tambah Mas Dio.
"Mereka udah jadian Mas?" tanyaku.
Teman-teman Adrian saling berpandangan, lalu menggidikkan bahu.
"Nggak tahu. Adrian nggak pernah cerita soal Keysha." jelas Mas Tio.
"Dia mah malah seringnya cerita tentang kamu." tambahnya.
Aku terdiam. Mencoba berpikir.
"Tapi sih kayanya nggak mungkin dia mau sama sih Keysha. Orang dia kan sukanya sama kamu, Mik." perkataan Mas Dimas sukses mengalihkan perhatianku dari seorang Adrian yang sedang berjalan kearahku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar