Kamis, 24 Januari 2013

Rinduku

Hujan diluar sana masih turun dengan sangat deras. Padahal beberapa jam yang lalu, langit diluar sana menampakkan keceriaannya dan bermain senang dengan sang mentari. Tetapi tak tahu kenapa, apa yang membuat mereka menjadi saling menjauh, apa yang dilakukan sang mentari pada langit sehingga membuatnya menangis deras siang ini?
Apakah mentari itu menyakiti sang langit yang begitu mencintainya? Yang sudah memberikan tempat untuknya agar terlihat jelas oleh makhluk penghuni bumi untuk memamerkan keindahan sinarnya?
Semua tak ada yang tahu. Hanya langit dan mentarilah yang tahu jawabannya.
Aku meringkuk lebih dalam didalam selimut yang menutupi tubuhku di sofa ruang tamu. Memandang keluar sana, memandang derasnya air hujan yang turun sejak tadi, awet sekali. 
Dingin. Dinginnya sampai menusuk ke tulang-tulang pelindung organ-organ yang ada didalam tubuhku. Suasana ini, membuatku merindukan seseorang. Seseorang yang sangat aku cintai, yang seminggu ini belum ada kabarnya sama sekali.
Aku jadi ingat ia pernah meminjamkan jaketnya padaku saat aku terjatuh didepan gerbang sekolah. Dan itu membuat seragam atasanku yang berwarna putih, berubah seketika menjadi warna cokelat gelap.
Aku mengambil ponselku di meja yang ada didepanku. Menekan ke menu, dan masuk ke pesan. 
Namanya tertera jelas pada pesan terakhir, Adi. Sebuah pesan singkat darinya, dan itupun dikirim seminggu yang lalu. 
Jangan lupa belajar, tidurnya jangan kemaleman :)
Aku tak pernah melupakan kata-kata itu, selalu kuingat. Kedua alisku saling bertaut membaca pesan-pesan darinya yang kusimpan di Achive Message.
Morning Risa :) 
Have a nice day in school !
Seminggu ini, tak ada pesan seperti itu lagi darinya. Ada yang kurang. Membuatku jadi berpikir yang tidak-tidak tentangnya.
Kamu sakit ? Sakit apa ? GWS sayang. 
Makannya dijaga ya. Maaf aku belum bisa pulang, tugas numpuk.
Tapi aku janji, akhir bulan ini aku bakal pulang. Miss you~
Aku mendesah panjang, membaca beberapa pesan darinya. Aku hanya memilih untuk diam, menikmati rasa sakit didalam kerinduan ini (dwitasari). Tak ada yang dapat kulakukan selain diam, membaca pesan-pesan manisnya, mencoba mengeja nama nya di kontak ponselku, dan akhirnya aku hanya bisa terdiam.
Saat aku merindukannya, aku hanya dapat mengingat banyak hal yang aku lewati bersamanya, tidak akan pernah bisa terulang lagi (dwitasari).
Saat aku merindukannya, aku hanya bisa membawa namanya dalam doa, tanpa pernah berani jujur tentang perasaanku (dwitasari).
Tidakkah dia merindukaku?
Sedang apa dia?
Aku mencoba untuk berpikir yang positif terhadapnya. 
Ponselku tiba-tiba berdering nyaring, hampir saja aku menjatuhkannya kalau tidak melihat sebuah nama yang tertera jelas dilayar ponselku. Kak Adi.
Detak jantungku tiba-tiba menjadi cepat, tak terkendali. Deru aliran darahku juga semakin deras, memusat pada satu titik, dimana titik itu membuatku menjadi tidak tenang. Baru saja dibicarakan, dia sudah menelfon. Apakah ini yang dinamakan telephaty ?
Ku usap layar ponselku yang berwarna hijau, lalu perlahan kudekatkan ponselku pada telinga kiriku.
"Halo Risa..." suaranya terdengar sangat berat, berbeda sekali dengan biasanya. Tidak lembut dan menenangkan.
Aku masih terdiam tidak percaya. Aku sangat merindukan suara ini. Aku merindukan sosok dibalik ponsel ini.
"Risa?" ulangnya memanggil namaku. 
Tidak ada yang bisa kukatakan, terlalu berat untuk menjawab.
"I miss you so badly, Risa."
Seakan sebuah luka itu tiba-tiba menutup dengan sendirinya. Terdengar sangat menyejukkan ditelinga dan dihati. Aku tersenyum getir.
"I miss you more." jawabku singkat.
"Maafin aku seminggu ini nggak nge hubungi kamu. Aku takut ganggu kamu yang lagi TO." 
Dia sama sekali tak pernah menjadi pengganggu, justru dialah semangatku, tak sadarkah ia? Seberapa besar aku membutuhkannya?
"Nggak papa. Kapan pulang? Aku pingin ketemu kamu."
Dia terdiam. Tak ada jawaban. Lama sekali.
"Bagaimana kalau sekarang? Aku udah didepan rumahmu." 
Seketika itu juga aku menoleh kearah jendela. Dia berdiri didepan pintu rumah mengenakan jaketnya yang waktu itu ia pinjamkan padaku.
Aku bergegas menyingkirkan selimut, lalu berjalan membuka pintu rumahku yang tak jauh dari sofa tempat aku duduk tadi.
Dia berdiri didepanku. Tingginya yang lebih delapan sentimeter dariku, membuatku harus mendongakkan kepala untuk melihatnya. Jaketnya basah, rambutnya yang cepak juga sudah basah, membuatnya nampak tampan. Dia tersenyum, sangat manis, sebelah tangannya masih menggenggam sebuah ponsel yang masih ditempelkan ditelinga kanannya.
Aku masih terdiam dengan ponsel yang masih menempel juga pada telinga kananku, memperhatikan sesosok laki-laki yang ada didepanku, lalu tersenyum.
"I miss you...." ujarnya lirih. 
Aku memutuskan sambungan telfonnya dan menghambur kearahnya. Dia memelukku dengan sangat erat, hangat sekali dan begitu terasa nyaman. Dapat kudengar jelas detak jantungnya yang berkejar-kejaran didalam sana. Tuhan mendengar doaku, Tuhan tahu apa yang sedang aku rasakan. Ini jawaban dari Tuhan.

Rabu, 23 Januari 2013

Take Care :)

Aku berjalan keluar dari kelas. Suasana hari Jum'at memang selalu terasa panas. Membuat seragam sekolah mudah sekali basah. Murid-murid berhamburan keluar dari kelas mereka, berlomba-lomba untuk berjalan ke luar dari sekolah, terutama anak laki-laki yang hendak melaksanakan shalat Jum'at.
Lapangan SMANSA benar-benar terlihat sangat panas, disinari oleh teriknya sang mentari yang bersemangat menunjukkan kekuatannya pada dunia.
Aku mengambil masker bergambar winnie the pooh didalam tasku dan segera memakaikannya didepan mulut. Dengan menggendong tas ranselku yang tidak begitu berat, langkah demi langkah aku kuatkan kulitku yang rentan terkena sinar ultraviolet berjalan menuju gerbang sekolah. Seseorang menyamai langkahku dan tersenyum padaku.
"Kak Dee." sapaku dibalik masker.
"Halo Dira. Loh kok ditutupin masker wajahnya?"
"Panas kak." jawabku singkat.
"Oh.." kami terdiam, lalu terhenti diseberang jalan. Menunggu waktu menyebrang.
"Kamu pulang sendirian?" tanya Kak Dee.
Aku mengangguk, "Iya kak. Masa mau sama Kak Dee?"
"Ya nggak papa sih kalo mau sama aku. Tapi pulangnya jam satu, habis selesai jum'atan." jawab Kak Dee diselingi dengan senyuman.
Aku tersenyum dibalik masker, "Kelamaan kak."
Kami menyebrang bersama dan masuk kedalam parkiran motor.
"Yaudah, kamu pulangnya hati-hati ya."
Aku menoleh kearahnya yang hendak bergabung bersama teman-temannya.
"Iya. Makasih kak." Tersenyum dan melambai kearahnya.
Sebuah perhatian yang tulus dan sangat bermakna untukku.

Arti Sebuah Senyuman

"It's time to have first break"
Bel istirahat berbunyi sangat keras di speaker kelas, membuat kantukku yang menyelimuti sepanjang pelajaran bahasa Indonesia hilang entah kemana. Aku menguap sekali melihat Bu Cita keluar dari kelas dengan diikuti teman-temanku yang sudah mengeluarkan uang lima ribuan dan sepuluh ribuan.
"Dira, jajan yuk?" Shinta berjalan kearahku dan duduk dibangku sampingku yang sudah kosong.
"Jajan? Rame banget pasti Shin."
"Ya pasti rame lah. Orang kantinnya aja cuma satu, masa mau minta sepi."
Shinta menggeret lenganku dengan kuat, hampir saja aku terjatuh jika tidak berpegangan pada meja.
"Cepetaaaaan!!!!"
                                                                   ***
Benar saja, kantin sudah dipenuhi dengan ratusan murid SMANSA yang berdesak-desakkan meminta untuk dijuali lebih dulu. Aku berhenti didepan pintu kantin yang terbuka lebar, memandang malas untuk masuk kedalam sana.
Tinggiku tidak akan sampai untuk meminta dijuali lebih dulu, hanya 150cm, dan aku yakin, aku akan tenggelam diantara lautan manusia itu.
"Ayo masuk!!" rengek Shinta masih memegangi lengan kananku.
Aku berdecak kesal memintanya untuk melepaskan tanganku.
"Kamu nggak lihat? Lautan manusia, Shin!"
"Ya terus?"
"Aku bakal tenggelem, bego!"
Shinta tertawa keras mendengar perkataanku.
"Astaga, Dira. Nggak mungkin lah. Masa iya kamu bakal tenggelem. Mereka juga nggak akan setega itu kali buat nenggelemin kamu." tawa Shinta masih terdengar jelas diantara gaduhnya suara anak-anak.
Dengan malas, aku mengikuti langkah Shinta yang berada tepat didepanku.
Aku memandang kesekeliling, disamping kananku ada rombongan anak-anak kelas XII yang sedang makan disana. Dan ada Kak Dee. Dia melihatku.
Aku mencoba tersenyum seramah mungkin kepadanya. Dengan lega, kudapati jawaban senyuman yang sangat manis darinya.
"Cie Dee sekarang punya kecengan. Seruuu!" ujar seorang temannya yang mendapati aku dan Kak Dee saling tersenyum.
Kak Dee hanya tersenyum menanggapi gurauan dari teman-temannya lalu ia duduk manis dengan menopang dagunya.
Melihatnya tersenyum padaku sekali saja, sudah sangat membuatku lega dan bahagia. Tak perlu yang lain. Cukup dengan sebuah senyuman.
Senyumannya yang dapat merubah mood menjadi kembali lebih baik.