"It's time to have first break"
Bel istirahat berbunyi sangat keras di speaker kelas, membuat kantukku yang menyelimuti sepanjang pelajaran bahasa Indonesia hilang entah kemana. Aku menguap sekali melihat Bu Cita keluar dari kelas dengan diikuti teman-temanku yang sudah mengeluarkan uang lima ribuan dan sepuluh ribuan.
"Dira, jajan yuk?" Shinta berjalan kearahku dan duduk dibangku sampingku yang sudah kosong.
"Jajan? Rame banget pasti Shin."
"Ya pasti rame lah. Orang kantinnya aja cuma satu, masa mau minta sepi."
Shinta menggeret lenganku dengan kuat, hampir saja aku terjatuh jika tidak berpegangan pada meja.
"Cepetaaaaan!!!!"
***
Benar saja, kantin sudah dipenuhi dengan ratusan murid SMANSA yang berdesak-desakkan meminta untuk dijuali lebih dulu. Aku berhenti didepan pintu kantin yang terbuka lebar, memandang malas untuk masuk kedalam sana.
Tinggiku tidak akan sampai untuk meminta dijuali lebih dulu, hanya 150cm, dan aku yakin, aku akan tenggelam diantara lautan manusia itu.
"Ayo masuk!!" rengek Shinta masih memegangi lengan kananku.
Aku berdecak kesal memintanya untuk melepaskan tanganku.
"Kamu nggak lihat? Lautan manusia, Shin!"
"Ya terus?"
"Aku bakal tenggelem, bego!"
Shinta tertawa keras mendengar perkataanku.
"Astaga, Dira. Nggak mungkin lah. Masa iya kamu bakal tenggelem. Mereka juga nggak akan setega itu kali buat nenggelemin kamu." tawa Shinta masih terdengar jelas diantara gaduhnya suara anak-anak.
Dengan malas, aku mengikuti langkah Shinta yang berada tepat didepanku.
Aku memandang kesekeliling, disamping kananku ada rombongan anak-anak kelas XII yang sedang makan disana. Dan ada Kak Dee. Dia melihatku.
Aku mencoba tersenyum seramah mungkin kepadanya. Dengan lega, kudapati jawaban senyuman yang sangat manis darinya.
"Cie Dee sekarang punya kecengan. Seruuu!" ujar seorang temannya yang mendapati aku dan Kak Dee saling tersenyum.
Kak Dee hanya tersenyum menanggapi gurauan dari teman-temannya lalu ia duduk manis dengan menopang dagunya.
Melihatnya tersenyum padaku sekali saja, sudah sangat membuatku lega dan bahagia. Tak perlu yang lain. Cukup dengan sebuah senyuman.
Senyumannya yang dapat merubah mood menjadi kembali lebih baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar